Postingan

Mirrorless

Aku bercermin pada kaca yang terlalu indah, sampai lupa bahwa bukan diriku yang terpantul dari kaca itu.  Ia hanya sosok sempurna yang tak sempat atau bahkan tidak akan pernah ku miliki. Ia hanya ilusi yang sempurna untuk mengobati keinginan yang terkubur.  Sampai kapan kau akan bercermin pada kaca itu?  Kau bahkan lupa wujud asli dirimu. 

a girlšŸ’…

Menyelami diriku 9 tahun lalu, seorang gadis yang rapuh.  Apakah kerja otak memang begitu ya memutar ulang memori lama tiba-tiba, memori pahit dan lucu jika dilihat dari sudut pandang diriku sekarang. Banyak kejadian yang mengubah diriku, dari perempuan pemberani menjadi perempuan tidak punya nyali.  Kalau aku kembali ke sembilan tahun lalu, aku akan berbicara seperti ini "Tetaplah bersinar dan jangan lupa bela dirimu sendiri" 

ilusi

aku hanya terjebak pada bayangan dua tahun lalu, aku hanya mencintai sosok dia yang telah lama tidak aku jumpai. Jadi selama ini aku terjebak dalam ilusi. 

Rasa yang ditinggalkan

Diantara perempuan dan laki-laki siapa yang paling rumit?  23 tahun hidup di dunia untuk tumbuh, berkembang, dan melihat dunia yang penuh cerita dengan kedua mata. Rasanya lelah ketika mata hanya melihat kesedihan, rasanya berisik ketika selalu mendengar berita buruk. dan rasanya hancur melihat dua orang lelaki dan perempuan bertengkar padahal mereka sudah mengucap janji suci.  Dua orang  itu adalah orang yang amat saya cintai, tetapi terkadang tidak. Kalau menjadi perempuan itu sepertinya aku memilih hidup sendiri, tidak mau menjadi perempuan yang menangis sendiri, memikul beban berat, dan ditinggalkan perasaannya, jika bertemu laki-laki itu aku akan pergi sehingga aku tidak pernah bertemu dengannya. Menurutku, mereka sama-sama bodoh. 

tidur tinggal tidur

ketenangan diri tanpa bergantung kepada orang lain sepertinya sudah lama menghilang, aku yang percaya diri dan tangguh melakukan apapun mulai memudar. Kebiasaan baru yang terlalu menggantungkan diri terhadap orang lain rasanya perlahan membunuhku. Tidur tinggal tidur, tidak perlu cerita dongeng dan menghitung kambing, seperti anak kecil saja. 

Warna Baru di Idul Adha

Gambar
Tepat hari ini, 6 Juni 2025, adalah kali terakhir aku merayakan Idul Adha di ma’had tercinta. Setelah empat tahun lamanya menuntut ilmu di kampus dan pesantren, semua memori terasa begitu indah. Waktu ternyata sangat cepat berlalu entah karena aku benar-benar menikmati kehidupanku sebagai mahasiswa dan mahasantri. Sempat terlintas di pikiranku, setelah empat tahun ini, aku akan ke mana? Kegiatan apa yang akan kulakukan setelah terbiasa hidup di ma’had ini? Mungkinkah aku harus menata ulang kehidupanku setelah lulus? Di momen indah hari ini, banyak pelajaran yang bisa aku ambil. Beberapa hari sebelum Idul Adha, aku sempat berekspektasi bahwa Lebaran kali ini akan sangat bermakna jika bisa merayakannya bersama teman-teman seangkatanku, terutama orang-orang terdekat. Aku membayangkan akan membuat cerita baru, berfoto bersama, dan menikmati keriuhan serta kelucuan anggota kobongku. Tapi ternyata, tiap tahun Idul Adha punya ceritanya sendiri. Tak semua orang bisa berkumpul seper...

panjang lebar

 Tidakkah semua upaya yang dilakukan akan sia-sia?  Aku hanya menjalani hidup dengan semestinya menerapkan prinsip hidup yang kuat, haruskah aku diinjak terus? tidak dihargai dan bahkan aku hanya dianggap bagian kecil. Memang hanya bagian kecil, bukan? Saya juga punya hak untuk hidup, hak untuk berbicara, hak untuk mengutarakan apa yang dirasakan. Tapi kenapa seolah-olah semua itu tidak berpihak. Menjalani hari dengan berat tanpa dukungan, membangun tameng untuk melindungi diri ? cara bagaimana lagi jika tameng itu dihancurkan?  ah sudahlah, tidak ada gunanya juga berbicara panjang lebar...