Kesadaran akan hidup di dunia menyayat hati l, perlahan demi perlahan. Dunia terlalu sunyi untuk jiwa yang kosong. Mencari makna pada setiap langkah kaki yang memijak bumi, atau hanya sekadar hidup, menunggu waktu kembali ke Sang Pencipta.
Aku bercermin pada kaca yang terlalu indah, sampai lupa bahwa bukan diriku yang terpantul dari kaca itu. Ia hanya sosok sempurna yang tak sempat atau bahkan tidak akan pernah ku miliki. Ia hanya ilusi yang sempurna untuk mengobati keinginan yang terkubur. Sampai kapan kau akan bercermin pada kaca itu? Kau bahkan lupa wujud asli dirimu.
Menyelami diriku 9 tahun lalu, seorang gadis yang rapuh. Apakah kerja otak memang begitu ya memutar ulang memori lama tiba-tiba, memori pahit dan lucu jika dilihat dari sudut pandang diriku sekarang. Banyak kejadian yang mengubah diriku, dari perempuan pemberani menjadi perempuan tidak punya nyali. Kalau aku kembali ke sembilan tahun lalu, aku akan berbicara seperti ini "Tetaplah bersinar dan jangan lupa bela dirimu sendiri"
ketenangan diri tanpa bergantung kepada orang lain sepertinya sudah lama menghilang, aku yang percaya diri dan tangguh melakukan apapun mulai memudar. Kebiasaan baru yang terlalu menggantungkan diri terhadap orang lain rasanya perlahan membunuhku. Tidur tinggal tidur, tidak perlu cerita dongeng dan menghitung kambing, seperti anak kecil saja.
Komentar
Posting Komentar